Bagaimana Refleksinya, tergantung kita melihat diri. Bagaimana kita melihat diri, tergantung pikiran dan pengalaman akan cinta. Mengapa begitu? Kadang karena kita kurang mendapatkan cinta itu kita melihat bahwa diri kita tidak layak untuk dicintai siapapun. Padahal cinta sejati ada di dalam diri kita, mengapa begitu?
Masih kah teman - teman ingat akan bacaan kitab kejadian awal penciptaan di situ Allah berkata "Aku menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Ku" yang berarti ketika kita bercermin dan melihat diri kita itu berarti kita juga melihat Allah.
Dan Allah adalah sumber cinta dan kasih yang tidak ada habisnya, kalau kita mendalami kisah di injil dimana Yesus bertemu perempuan di sumur dan dia bertanya "dimanakah aku mendapkan air yang tidak akan habis itu" dan Yesus menjawab "Akulah sumber air yang kamu cari itu".
Ketika banyak orang yang menilai kamu tidak rupawan, menilai kamu tidak sempurna dan menilai kamu tidak layak untuk dicintai. Bercerminlah, dan lihatlah! Di diri mu lah cinta itu ada disitulah kamu layak disayangi yaitu oleh dirimu dan Allah.
"Tapi aku kan mau dicintai juga sama oranh lain" "ku juga butuh cinta itu". Sebagai manusia, pasti rasa kesepian itu tidak enak. Namun, kamu bertemu orang pasti memberikan seluruh cinta mu dan dirimu untuk dia. Tapi, tangki dan air di dirimu kosong, bagaimana sesama mu mendapatkan air jika kmu sendiri tidak punya air itu.
Maka, isilah dulu dirimu dengan air sampai sepenuh - penuhnya. Tutuplah lubang- lubang di bejana mu, agar air itu kesimpan dengan baik. Ketika kamu menemukan orang, maka kamu bisa memberikan air. Jika air mu sekarat, maka isilah kembali dengan firman dan ekaristi, serta Yesus itu sendiri.
Cermin bukan lagi hanya gambaran diri, tapi bentuk cinta Allah yang yang sempurna atas dirimu. Meski kamu gak yakin orang tua mu menginginkan mu, tapi percayalah Allah Sang Pencinpta menginginkan diri Mu ada untuk membagika air kepada sesama.