Jakarta (16/10/25) - Saat itu saya berziarah bersama anak - anak tempat saya bekerja, karena menunggu waktu yang lama akhirnya kami memilih untuk berdoa di goa maria. Saya yang melipir ke pinggir saat itu melihat kucing yang berdiam sendiri, lalu saya mengabadikan momen itu.
Saat melihat kembali foto ini, saya berfikir itu kucing kok damai sekali, meneduhkan diri di bawah pohon sambil memejam kan mata. Rasa damai & adem jg saya rasakan saat melihat kucing itu sekali lagi. Saya berfikir saat ini, para murid dalam perjalannya kan suka melihat Yesus ya, walaupun Yesus juga suka memilih jalan doa sepi sendiri tanpa para murid.
Saya membayangkan seberapa adem dan damainnya ya para murid yg bisa melihat Yesus Sang pembawa damai, harapan dan sukacita. Harusnya selalu hatinya full terisi akan damai, harapan dan sukacita ya.
Lalu bagaimana dengan kita yang cuman bisa mendengar? Eitsss kalian salah. Kamu dan saya, juga masih bisa melihat damai, harapan dan sukacita itu dalam ekaristi suci yaitu Tubuh serta darah Yesus. Asal dengan syarat, kalian sungguh - sungguh menghayati dari awal sampai akhir.
Tanpa harus melihat, seperti kucing itu yg memilih jalan sunyi memejamkan mata dan merasakan hilir angin. Begitu pula kita yg diajak untuk berdiam diri, merefleksikan sukacita, harapan dan damai itu dalam tata perayaan ekaristi.
Memang sulit, apalagi untuk orang yg selalu pikiran dan otaknya terlalu ramai. Atau untuk orang yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Ya, hal ini memang susah. Perlu dilatih terus menerus, dengan minta bantuan oleh Tuhan.
Jika kamu memang mau merasakan, maka datanglah dan mimtahlah kepekaan hati dan iman. Hakekatnya daging yang lemah, tapi lewat hati dan iman kamu menjadi teguh serta disanggupkan.
Yesus sang damai, sukacita dan harapan aja juga memilih jalur sepi untuk menajamkan lagi visi misi serta tugasnya di bumi. Coba beliau tidak melakukan dan bukan Allah, pasti udah ngamuk dan lelah duluan menghadapi orang- orang yg nanya mulu, mencobai mulu, emosian mulu, dll.
Hahaha, sedikit menggelitik ya. Sebagai sahabat beliau ini mengajarkan seberapa penting untuk melihat lebih dalam Karya Allah dalam diri kalian. Lewat? Ya ekaristi itu, jika lebih dalam lagi lewat komunikasi romantis anda dengan Tuhan di kapel. Ya tulisan ini terus mengulang - ngulang bahasanya moon maap, karena saya sangat senang menunjukan apa yg saya rasakan secara langsung dengan Tuhan dalam kehidupan saya lewat Tulisan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar