(14/11/25) - sepanjang jalan hari ini saya kepikiran dengan cerita pertemuan Maria dan Elisabeth. Saat dimana Maria mengunjungi Elisabet yang merupakan saudaranya, sedang hamil tua (8-9 bulan). Bukan hanya datang untuk menjenguk saja, tapi Maria ingin memberikan kabar bahagia bahwa dia juga tengah hamil ke Elisabeth. Cerita ini sebenarnya banyak sekali sudut pandang yang bisa diambil, pertama soal "mendengar" dimana kita memposisikan sebagai Yohanes Pembaptis yang waktu itu masih di perut ibunya mendegarkan salam dari Maria.
"Anak di dalam kandung ku Menlonjak kegirangan" salah satu respon feedback yang bisa dirasakan oleh Elisabeth lewat anaknya yang bersukacita karena mendegar Tuhan. Tentu penting sebagai orang muda kita juga mau menyisikan waktu 5 -10 menit diam untuk mendengarkan Tuhan, Jangan berfikir Tuhan langsung jawab "ya anak", pasti kalai seperti itu yang ada langsung kabur kita. Kehadiran Tuhan sebenarnya sederhana bisa dalam bentuk kepekaan rasa tenang, damai, ringan, sedih, sukacita dan hal yang mungkin momen itu kita butuhkan.
Mendegarkan Tuhan juga berarti belajar mendegarkan orang lain, karena kadang dari cerita dan masukkan nihhh... kita juga sama - sama belajar, bertumbuh secara iman, kuat, dan makin sabar. Tapi gak mesti kita ambil 100% apa yang diterima, karena tetap sesuai dengan visi misi mu.
Poin ini berkesinambungan dengan yang kedua "menyapa". Seperti bayi Tuhan yang lewat perantara ibunya menyapa Elisabeth dan bayi Yohanes Pembaptis dengan bersukacita, dari sini kita diajarkan Tuhan untuk belajar menyapa saudara terdekat sampai orang asing dengan tentunya membawa kabar sukacita. Sebuah sapaan kecil saja seperti anggukan atau senyuman atau lainnya yang kita berikan bisa saja menjadi hal baik atau moment yang paling dikenang oleh orang lain.
Step sebelum kamu mendengar, pasti kmu harus menyapa mereka dengan "hai", "bagaimana kabar", "semoga terkabul ya", dan lainnya. "Salam hai engkau", adalah hal sederhana tapi membawa makna dalam buat Elisabeth. Mungkin kita menganggap apa yang kita lakukan merupakan hal remeh, tapi mungkin tidak buat orang lain.
Karena sukacita sejati adalah, tidak kita rasakkan sendiri tapi bagaimana bisa kita bagikan kepada sesama, dari Maria dan Elisabet kita belajar bahwa relasi yang sehat adalah dimana dua orang saling meneguhkan serta menguatkan satu sama lain. Perjalanan yang dialami kedua wanita ini saat itu dan kedepannya mungkin sangat berat, tapi karena adanya dukungan sehingga membentuk hubungan yang bukan cuman sebagai saudara saja tetapi "teman seperjalanan iman".
Semoga Teman oranh muda katolik, ataupun siapapun yang membaca ini. Menemukan makna yang lain dari cerita ini, serta bisa dibagikan. Membawa kabar kebahagiaan tidak membuat kita menjadi miskin atau merugi, melainkan kita menjadi kaya akan iman dan pengharapan karena kita belajar merenungkan cinta Tuhan yang bisa ditemukan dari hal terkecil sekalipun dalam hidup. (Dids)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar