Senin, 29 Juni 2026

AMARAH

Picture : Pexels/ Nikita Nikitin

Kita pasti pernah marah, rasanya ketika marah semua pengen kita maki- maki dan tabok rasanya. Dada terasa menggebu - gebu, muka memanas, dan perasaan lainnya yang dirasakan.

Banyak orang bilang "jangan marah, nanti cepat tua", tapi kayaknya kata ini udah tidak mempan lagi bagi orang yang kesabarannya setipis tisu. Lalu bagaiamana sebenarnya? Apakah boleh? Atau di larang oleh Tuhan? Katanya jangan marah- marah Tuhan gak suka.

Teman - teman muda, rasa marah atau kita sebut amarah tidak disalahkan namun ada in case tidak dibenarkan. Anggaplah marah itu seperti api, yang dimana kalau terlalu lama pasti akan membesar dan membakar banyak hal yang berdampak buruk bagi sekitar. Namun api itu kadang kita perlukan, sebagai parameter atau ukuran dan membela yang suatu kebenaran.

Yesus yang turun sebagai manusia, juga merasakan namanya amarah. Saat di bait Allah dipakai sesuatu hal yang tidak baik, Ia memberantakan semua. Namun, amarah yang dikeluarkan itu baik karena Ia tidak mau manusia jatuh dalam kesalahan dan tidak mau kalau rumah Allah dipakai dengan cara yang salah. 

Marah tidak selalu buruk dan tentu kita boleh marah, namun harus ada alasan dan tujuan kenapa kamu merasakan marah. Tidak memperpanjang/ berlebihan terhadap rasa amarah. Ketika berlebihan, kedamaian tidak dirasakan oleh mu dan orang sekitar mu. Bahkan Yesus mengajarkan kita, sebagai pembawa damai bagi sesama.

Utama adalah tidak merugikan, menyakiti, bahkan mendorong ke hal tidak baik orang lain di sekitar kalian. Ketika marah itu merubah kamu, maka wajiblah kamu menanangkan diri dan berdoa kepada Tuhan.

Ketika kamu marah, haruslah kamu malah semakin menempel pada Tuhan. Makanya, marah itu menjadi paramenter atau ukuran kita, ketika terlalu menyelimuti relung hati kita maka udah menjadi alarm untuk mencari damai itu di dalam Tuhan. "Jangan biarkan amarah merebut rasa damai di hati mu masing- masing pribadi". 

Kalian juga pernah mendengar bukan, kalau sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Begitu pula dengan emosi yang kita rasakkan, boleh dirasakan namun tidak boleh berlebihan terlarut. Emosi yang berlebih, bisa digunakan si jahat untuk mebuat kita ada batasan dengan Tuhan, sesama dan diri sendiri.

Tidak sedikit kasus pembunuhan dan bunuh diri, di dasarkan karena emosi yang berlebihan seperti dendam, kekecewaan, dan lainnya. Makanya, kita juga butuh namanya komunitas atau orang- orang yang membantu kita untuk menjawab setiap emosi yang kita rasakan. Jik tidak ada, kamu bisa lari ke kapel, gereja atau goa maria untuk meluapkan emosi.