Makanya aku ingin banget mengangkat jejak Dia dari sisi ini. Walaupun pada masa turun ke bumi, Tuhan Yesus gak pernah ada jeda dia sendirian kecuali puasa 40 hari di padang gurun. Selebihnya? Tentu diikutin sama ke 12 murid dan orang - orang yang percaya akan mujizatnya.
Sebagai orang yang "famous" dan "sosial", Dia terus menunjukan bagaimana gak pernah lelah menjadi garam dan terang bagi yang lain. Terus, apakah dia terima balasannya dari orang lain? Tentu tidak.
Terbukti saat penangkapan Yesus, dimanakah para murid? Yup mereka kabur, karena pemimpinnya gak ada. Walaupun saat itu petrus nyamperin, tapi dia gak mengakui Yesus.
Yes, kita belajar bahwa orang yang deket banget sama kita dan bahkan bilang bahwa akan ada buat kita. Ada saatnya gak mau ikut campur urusan mu, gak peduli sama sakitnya kamu, dan lain sebagainya. Seperti Yesus yang harus melewati masa kesakitan, kesepian dan penderitaan seorang diri. "Seperti anak domba yang dibawa ke tempat pembantaian, dia hanya diam saat bulunya dicabut."
Merefleksikan ini aku terdegun, "mungkin ini memang momen yang menyadarkan ku, bahwa tinggal aku dan Tuhan." Seperti saat itu cuman ada Yesus dan Allah Bapa, "pasrah, diam, berserah" adalah gambaran yang walaupun sakit tapi akhirnya kau jumpai kemenangan.
Untungnya lagi, kita hidup di era sekarang yang dimana Kristus udah menang atas maut dan memberikan penolong untuk manusia. "Kamu gak seorang diri. Walaupun yang lain pergi meninggalkan mu, ada Dia yang mau menolong mu dan jadi sahabat yang bener - bener ada di saat tersusah." Tergantung diri kita, maukah membuka diri untuk diam, pasrah, dan berserah kepada Tuhan atau memilih rasa hopless menguasai kita.
Seorang diri bukanlah hal buruk, meski bikin sesak atau overthinking. Percayalah kuk saat ini kau bawa, tidaklah lebih berat dibanding kuk Yesus. Pastinya nih, Dia siap membatu mengontongnya. Semoga tulisan ini, bisa membangun diri mu yang terpuruk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar